dusta

Biasa lah pada awalannya segala indah.
Di tabur 1001 janji.
Setiap satu butir kata itu penuh pengharapan. 
Yang kononnya nak kata kau itupencinta yang setia.
Yang kononnya kau lah yang di khianat.

Hakikat itu semua nista.
Kata kau, kau tak akan berpaling ke belakang.
Tapi akhirnya kau juga yang masih membaca buku yang sama yang lama.
Dan aku menjadi mangsa, dengan segala pemanis di bibir yang kononnya setia..

Surrender

Entah kenapa cuba aku jauh. Aku sendiri yang tak keruan. Hendak buat tak endah. Tapi hati rindu. Akhirnya aku juga kalah. 

Tapi kata maaf dia tu. Sedikit sebanyak menghilangkan rasa egois dalam diri.

ego

"Tomorrow can you please wake me up. Something important to do. Thank you..."

Setelah untuk beberapa hari menyepi. Setelah semalam aku berperangai dingin.  Kemudian kau muncul untuk pesanan itu  saja? Ingat aku ni alarm clock kau? 

Kalau rindu kata rindu. Dont let your ego ruin your life.. 🤗😏

i hate you, i love you

"I hate youI love you
I hate that I love you
Don't want to but I can't put nobody else above you
I hate you I love you
I hate that I want you
You want her, you need her
And I'll never be her"

But seems you are fine and never care 😞


phewww...


 "I'm not texting you for a few days because of busy with working. Then felt tired and asleep.." 

and wow if it is true then....

lost

Dah nak masuk hari ketiga menyepi je tanpa satu khabar. Pesanan terakhir "I need to continued with my works okay.." Lepastu hilang sehingga ke saat ini.

Just think so mybe he just delete my name in his memories because of his memory has full with his work :/

It's okay

Sometimes it's okay to be independence to yourself cause that times only you can feel how really mature you are to make your own decision without asked other opinion.

Sometimes it's okay to only think about yourself eventho the people will label you as a "selfish bullshit" but heyyy did you know that your happinest is more priority to yourself when there's no one even care about you.

Sometimes it's okay to be alone than to be with a fake friends or.. even a fake boyfriend that just always breaks your heart into a piece without any sorry and just leave you there alone.

Sometimes it's okay to ignore the all of your haters that never know who you really are and what they sees only your flaws.

Sometimes it's okay to be done with the people who always screwed you up without any good reason.

And sometimes it's okay to be okay when everything is not really okay in fact of you know that everything that happen is gonna ruin your day and make you feel upset and unwanted..

But... you still said to yourself "it's okay"

Not staying nor leaving

Kekadang aku keliru.
Kenapa perlu menyesal dengan apa yang berlaku.
Sebelum jadi dah di ingati bukan?
Dan seterusnya bila menjadi realiti menyesal tak sudahi.

Untuk mendapatkan peluang kedua? ketiga? kempat? atau sehingga trillion punya peluang.
Perkataan sama jua yang lahir "aku menyesal dengan apa yang jadi, berikan satu peluang lagi..."
Dan hal ini boleh menjadi satu itu tidak kekal pada satu.
dan lagi itu akan terus menjadi lagi.

Bukan bersifat kejam jauh lagi dendam.
Cuma hati dah penat untuk memberi peluang yang pasti akan di khianati lagi.
Ia akan tetap indah untuk beberapa ketika, dan kemudian akan kembali ke asal.

Itulah hidup.
Aku lebih memilih untuk tidak lagi terjebak.
Sakit bila di khianati masih terasa hingga kini.
Dan aku masih tidak ketemu penawarnya lagi.

Should I?

"Noktah yang tidak bertanda
Pertemuan tak diduga dan disengaja
Membuat diriku menulis semula

Rasa yang tidak bernama

Mengetuk hati memberi salam kasihnya
Haruskah diriku membenar semula

Seringkaliku menolak

Terjatuh hatiku
Padamu yang selalu bersamaku
Dalam suka dalam duka
Haruskahku menjauh

Ku cuba untuk lenyapkan semua

Kenangan yang tiada harga dan berguna
Inilah waktunya untuk dinoktahkan...

berkali ku cuba
membenarkan hati
menidakkan dusta
tak tergamak aku
kejamkah diriku
mencipta peluang
haruskah ku menjauh.."

Kadang memang sengaja aku keraskan hati untuk aku terus teguh berdiri. Walau pada hakikat sebenar aku tidak sekuat itu. Memang aku cuba, cuba untuk lari dari realiti. Sungguh kalau aku tahu benda ini yang bakal aku hadap, pasti pilihan pertama aku adalah untuk terus mematikan hati aku dari timbul sesuatu perasaan.

Bukan aku tidak mencuba untuk menjauh. Semakin aku jauh, semakin itu juga kau cuba hampiri. Dan semakin itu juga peluang untuk kau mengisi kekosongan dalam hati aku ini seakan akan dihamparkan karpet merah. Apa aku juga kah yang memberi peluang itu? 

Masih salah aku kah untuk terus memberi peluang? Masih salah aku kah untuk terus membiarkan hati ini? Masih salah aku kah?

Dan aku di sini akan tetap cuba untuk noktahkan ia semula...